Senin, 06 Mei 2013

ulumul hadis



ULUM AL-HADIS

A.  Pengerttian hadis
ü  Etimologi Hadis
Hadis berasal dari kata bahasa Arab الحديث yang berarti sesuatu yang baru.
ü  Terminologi hadis menurut ulama
·         Ulama hadis: "Segala apa yang disandarkan kepada Nabi saw baik dalambentuk perkataan, perbuatan, persetujuan (تقرير), sifat, atau sejarah hidup.
·         Ulama Usul: segala yang disandarkan kepada Nabi saw selain al-Qur'an, baik dari segi perkataan, perbuatan, ataupun taqrir yang dapat dijadikan sebagai dalil atas sebuah hukum syari'at.
·         Ulama Fikih: Segala yang bersumber dari Nabi saw yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat fard ataupun wajib.
·         Ulama Akidah: sesuatu yang berlawanan dengan bid'ah.
B.  Sebab Perbedaan Pendefinisian
Perbedaan pendefinisian ini disebabkan karena perbedaan pendekataan yang diterapkan oleh masing-masing ulama dalam melihat sosok Nabi saw.
C.  Sinonim Hadis
·         Al-Sunnah, yaitu segala yang diriwayatkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat/keadaan (tidak ada perbedaan antara pengertian hadis dan sunnah, sebagaimana dianut oleh mayoritas ulama).
·         Al-Khabar. Ada tiga pendapat:
§  Defenisi al-khabar sama dengan hadis;
§  Al-Khabar adalah sesuatu yang datang selain dari Nabi Muhammad saw, karena yang datang dari Nabi saw disebut Hadis;


§  Al-Khabar lebih umum dari pada hadis, karena al-khabar dapat digunakan untuk apa yang datang dari Nabi dan selain Nabi saw, sedangkan hadis khusus digunakan untuk apa yang datang dari Nabi saw.
·         Al-Atsar. Ada tiga pendapat:
§  Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat/moral;
§  Apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi'in;
§  Ulama Fikih dari Khurasan menamakan semua hadis mauquf dengan nama al-atsar, sedangkan hadis marfu' dinamakan al-khabar.
D.  Struktur Hadis
a.    Sanad adalah mata rantai para perawi yang menghubungkan matan hadis sampai kepada Nabi Muhammad saw.
b.    Matan adalah Lafaz hadis yang dengannya terbentuk makna-makna tertentu.
c.    Rawi/Perawi adalah orang yang meriwayatkan hadis dari seorang guru kepada orang lain yang tercantum dalam buku hadis.
d.    Mukharrij adalah perawi terakhir yang membukukan hadis yang diriwayatkannya ke dalam kitabnya, seperti al-Bukhari dan Muslim.

Contoh Sanad
حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ...
Berdasarkan contoh  sanad di atas, terdapat lima perawi yang terlibat dalam periwayatan, sbb:
1.     Al-Humaidiy bin al-Zubair (sanad pertama/perawi kelima).
2.    Yahya bin Sa’id al-Ansari (sanad kedua/perawi keempat).
3.    Muhammad bin Ibrahim al-Taimi (sanad ketiga/perawi ketiga).
4.    ‘Alqamah bin Waqqas al-Laisi (sanad keempat/perawi kedua).
5.    Umar bin al-Khattab ra (sanad kelima/perawi pertama), hingga sampai kepada Nabi saw.

Contoh Matan

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر...


E.  Hadis sbg sumber ajaran islam
Dalil kehujjahan hadis
ü  Dalil al-Qur’an
Perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya (al-Nisa:59).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا  

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
ü  Dalil Hadis
·         Hadis tentang keselamatan orang yg berpegang teguh pada al-Quran dan Sunnah (HR. Malik bin Anas).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ             Rasul saw bersabda:
“Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat untuk (selamanya) selama kalian berpegangteguh kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”.
·         Hadis tentang perintah berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw (HR. Abu Dawud).
ü  Dalil Ijma’ Ulama
Umat Islam sepakat al-Quran dan hadis sebagai sumber ajaran Islam.


ü  Dalil Logika
Kewajiban taat kepada sunnah Nabi Muhamaad saw adalah konsekuensi logis atas dalil-dalil yang sangat jelas menerangkan kebenaran Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah
F.  Fungsi Hadis terhadap al-Qur’an
ü  Bayan al-Taqrir
Hadis berfungsi sebagai penyokong atau penguat  apa yang diterangkan di dalam al-Qur'an.
ü  Bayan al-Tafsir
Hadis berfungsi sebagai penjelas atau penafsir terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
ü  Bayan al-Naskh
Suatu hadis yang berisi ketentuan yang datang kemudian dapat menghapus ketentuan al-Qur’an yang datang terdahulu
ü  Bayan al-Tasyri’
Hadis berfungsi mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak didapati dalam al-Qur’an.

G.  METODE PERIWAYATAN HADIS
G.1. Syarat penerima dan periwayat hadis
ü  Syarat penerima
·         Mumayyiz
ü  Syarat Menyampaikan Hadis
·         Islam
·         Baligh
·         Adil (Integritas)
·         Dabit  (Intelektualitas)
G.2. Metode Periwayatan Hadis
·         Metode al-Sama’ min lafz{i al-Syaikh
·         Metode al-Qira>’ah ‘ala al-Syaikh
·         Metode al-Ija>zah (pemberian izin)
·         Metode al-Muna>walah (penyerahan)
·         Metode al-Kita>bah (korespondensi)
·         Metode al-I’la>m (pemberitahuan)
·         Metode al-Was|iyyah (wasiat)
·         Metode al-Wija>dah (penemuan)

1.  Metode al-Sama’ min lafz{i al-Syaikh
·         Maksud: Mendengarkan lafaz hadis secara langsung melalui lisan guru.
·         Bentuk: Guru membacakan lafaz hadis baik dari hafalannya atau dari kitabnya sedangkan para murid mendengarkan lafaz tsb (baik dalam bentuk mendengar saja tanpa menulis atau mendengar dengan menulis).
·         Kedudukan: Metode teringgi menurut mayoritas ulama salaf dan khalaf. . Bahkan boleh mendengar dibalik hijab(tabir) apabila suara guru dikenali.
·         Penggunaan kata: حَدَّثَنَا, حدثني, سمعنا, سمعت, أخبرنا, أخبرني, أنبأنا, أنبأني
2.  Metode al-Qira>’ah ‘ala al-Syaikh
·         Maksud: Pembacaan hadis seorang murid kepada guru. Istilah lainnya, metode ‘Ard{(عرض).
·         Bentuk: Seorang murid membaca hadis kpd guru dan guru mendengarkan utk mengklarifikasi kebenaran bacaannya. Si pembaca bisa dari sang perawi atau orang lain. Bacaannya bisa dari hafalan murid atau dari kitab. Sedang sikap guru bisa mengikuti hafalan pembacanya atau memegang kitabnya sendiri, ataupun memegang kitab dari seorang perawi terpercaya.
·         Kedudukan: Metode teringgi menurut mayoritas ulama salaf dan khalaf. . Bahkan boleh mendengar dibalik hijab(tabir) apabila suara guru dikenali.
·         Penggunaan kata: حَدَّثَنَا, حدثني, سمعنا, سمعت, أخبرنا, أخبرني, أنبأنا, أنبأني



3.  . Metode al-Ija>zah (pemberian izin)
·         Maksud: Yaitu seorang syaikh (guru) mengizinkan muridnya meriwayatkan hadis darinya baik dengan ucapan maupun tulisan.
·         Bentuk: seorang guru mengatakan kepada salah seorang muridnya: Aku izinkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku” biasanya para syaikh meng-ija>zah-kan sesuatu tertentu kepada muridnya seperti ketika guru mengatakan: “aku Ija>zahkan kepadamu meriwayatkan seluruh riwaytaku dalam tulisan ini” atau mengatakan “aku Ija>zahkan kepadamu meriwayatkan dariku dalam kitab ini” atau mengatakan “aku ija>zahkan kepadamu Sahih al-Bukhari>” .
·         Lambang: حدثني إجازة, أخبرني إجازة.
4.  Metode al-Muna>walah (penyerahan)
·         Dua Macam. (1) Muna>walahyang disertai dengan ija>zah. Seperti seorang guru memberikan kitabnya kepada sang murid lalu mengatakan kepadanya: “Ini riwayyatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku” .(2) Muna>walahyang tidak diiringi dengan ija>zah. Seperti seorang guru memberikan kitabnya kepada sang murid dengan hanya mengatakan: “Ini adalah riwayatku”.
·         Lambang periwayatan: ناولني إجازة, ناولني.
5.  Metode al-Kita>bah (korespondensi)
·         Menuliskan hadis buat seseorang untuk diriwayatkan
·         Dua Macam metode al-Kita>bah:(1) Al-Kita>bah ma’a al-Ija>zah (penulisan yang disertai dengn izin) seperti perkataan guru kepada muridnya: “Aku Ijazahkan (izinkan periwayatannya) apa yang aku tuliskan untukmu” .(2) Al-Kita>bah tanpa disertai Ija>zah, para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini sebahagian memperbolehkan dengan syarat jika penulisnya diketahui dan sebahagian lainnya melarang.
·         Lambang periwayatan: حدثني كتابة, أخبرني كتابة.
6.  Metode al-I’la>m (pemberitahuan)
·         Maksudnya: Seorang guru memberitahukan kepada muridnya bahwa hadis ini atau kitab ini adalah riwayatnya dari fulan, dengan tidak disertakan izin untuk meriwayatkannya.
·         Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meriwayatkan hadis bila diterima melaui metode ini, sebahagian membolehkan dan sebahagian tidak membolehkkan.
·         Lambang periwayatan: أعلمني الشيخي.

7.  Metode al-Was|iyyah (wasiat)
·         Seorang guru meninggalkan wasiat kepada sang murid agar menulis/meriwayatkan hadis yang ditinggalkannya.
·         Lambang periwayatan: أوصى إلي فلان بكتاب, حدثني وصية.
8.  . Metode al-Wija>dah (Temuan)
·         Seorang perawi menemukan kitab atau tulisan seorang perawi lain tanpa ada izin dalam periwayatannya. Dan ini bukanlah cara belajar yang di akui.
·         Lambang periwayatan: وجدت بخط فلان, قرأت بخط فلان.

H.  Sejarah Pertumbuhan Hadis
H.1. Periwayatan Hadis pada Masa Nabi saw
Dalam kurun waktu 23 tahun, Rasulullah hidup bersama para sahabatnya tanpa ada dinding pemisah di antara mereka.  Rasulullah saw bergaul dengan mereka, baik di masjid, di pasar, di rumah, maupun dalam perjalanan dan pemberhentian.
Sejak diutus sebagai rasul Allah swt hingga wafatnya, Rasulullah senantiasa menjadi sumber inspirasi kehidupan keagamaan dan keduniawian bagi para sahabat.
Bentuk periwayatan hadis pada masa Rasulullah saw mencakup periwayatan secara lisan, tulisan, dan melalui perbuatan/praktek.






1.  Metode Lisan

§  Cara lisan adalah metode yang paling banyak dilakukan oleh Rasulullah saw dalam menyampaikan sunnah-sunnahnya.
§  Untuk memudahkan para sahabat menghafal pesan-pesan yang disampaikan oleh Rasulullah saw, beliau seringkali mengulangi hal-hal penting sampai tiga kali.
§  Selain itu, untuk memastikan bahwa para sahabat tidak keliru dalam menerima pernyataan-pernyataan yang beliau sampaikan, Rasulullah saw meminta para sahabat untuk mengulangi kembali apa yang telah dipelajarinya sementara beliau sendiri menyimaknya.


2.  Metode Tulisan

§  Nabi saw menunjuk beberapa orang dari kalangan sahabat beliau untuk menjadi penulis, spt Zaid bin S{a>bit, ‘Us\ma>n bin ‘Affa>n, ‘Ali> bin Abi> T{a>lib dan Ubay bin Ka’ab. 
§  Pengajaran Nabi saw dgn metode ini dapat dibuktikan melalui surat-surat Rasulullah saw kpd para raja, penguasa, kepala suku, dan gubernur kaum Muslimin.
§  Beberapa surat itu sangat panjang & mengandung berbagai masalah dlm Islam spt: salat, zakat, puasa, & bentuk ibadah.
§  Termasuk perkara yg didiktekan Nabi saw kpd para sahabat, spt apa yg didiktekan kpd ‘Ali> bin Abi>T{a>lib dan Abdulla>h bin ‘Amr bin ‘A<s}, serta perintah beliau untuk mengirimkan salinan khutbah kepada Abu> Syah al-Yama>ni>.






3.  Metode Praktek

§  Pesan-pesan Nabi saw melalui perbuatan atau praktek secara langsung tergambar pd kepribadian &prilaku  beliau yg dicontohkan kpd para sahabat.
§  Rasulullah saw dlm memberikan penjelasan-penjelasan praktis tentang perkara ibadah dan muamalah senantiasa disertai dengan perintah untuk mengikutinya. Contoh:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
   (“S{alatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku s{alat”)
Penerimaan para Sahabat thd hadis yg diajarkan Nabi saw tidaklah sama. Penyebabnya antara lain:
(1) perbedaan kesempatan dan kesanggupan mereka untuk senantiasa menemani Rasulullah saw;
(2) perbedaan jarak antara mereka dengan majlis-majlis Rasulullah saw;
(3) perbedaan dari segi masa masuknya mereka ke dalam Islam; dan
(4) perbedaan kemampuan menghafal serta kesungguhan mereka bertanya kpd Nabi saw.

Peringkat Sahabat yg paling byk meriwayatkan hadis:
(1) al-sa>biqu>n al-awwalu>n (yg mula masuk Islam), spt Abu> Bakar, ‘Umar bin al-Khat}t}a>b, ‘Us}ma>n bin ‘Affa>n, ‘Ali> bin Abi> T{a>lib, dan Ibn Mas’u>d;
(2) Ummaha>t al-Mu’minin (istri-istri Rasulullah saw) spt Aisyah dan Ummu Salamah;
(3) Sahabat yg sangat intens bersama Nabi bahkan menulis byk riwayat ttg Nabi, spt Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s};
(4) Sahabat yg kebersamaannya dgn Nabi sangat singkat ttp sugguh-sungguh  dlm mengumpulkan & menghafal hadis Nabi, Abdurrahma>n b. S{akhr Abu> Hurairah ra; dan
(5) Sahabat yg sungguh-sungguh mengikuti Nabi & banyak bertanya kpd sahabat lain yg lebih tua sedang masa hidup mereka relative lebih lama setelah wafatnya Nabi saw, seperti Abdulla>h bin ‘Umar, Abdulla>h bin ‘Abba>s, dan Anas bin Ma>lik.


H.2. Periwayatan Hadis pada Masa Sahabat
Sahabat adalah mereka yg bertemu dgn Rasulullah saw dalam keadaan muslim dan wafat dalam keadaan muslim.
Pasca wafatnya Rasulullah para Sahabat bukan saja diperhadapkan dgn masalah penyebaran hadis, ttp jg menjaga orisinalitas penukilannya & autentisitas materinya sesuai dgn apa yg tlh diajarkan, diperintahkan & dibebankan kpd mereka.
لِيُبَلِّغ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْه (رواه البخاري)
“Hendaklah yang hadir (diantara kalian) menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena sesungguhnya yang hadir dapat menyampaikan (suatu berita yang ia dengarkan dan saksikan) akan apa yang dia pahami kepada yang tidak memahami (perkara tersebut)


Bentuk periwayatan hadis pada periode Sahabat lebih banyak dilakukan dalam secara lisan.  Pada masa ini terjadi pembatasan periwayatan hadis, terutama pada periode khulafa>’ al-ra>syidi>n al-arba’ah, a.l. karena sikap kehati-hatian & kekhawatiran akan berpalingnya konsentrasi sahabat dari al-Qur’an (yg usianya masih sangat muda) kpd hadis. 
Akibatnya, intensitas para sahabat dalam meriwayatkan hadis sangat beragam, di antaranya ada yang sedikit dan ada pula yang banyak dalam meriwayatkan hadis.

ahabat yg sedikit meriwayatkan hadis, a.l.: al-Zubair bin al-‘Awwa>m, Zaid bin Arqam, dan ‘Imra>n bin H{us}ain.
Sahabat yg banyak meriwayatkan hadis:
(1). Abu> Hurairah Abdurrahma>n bin Sakhr (5.374 jalur sanad/1.326 hadis menurut Z}iya’ al-Rahma>n al-A’z{ami>);
(2). Abdulla>h bin Umar (2.630 hadis);
(3). Anas bin Ma>lik (2.284 hadis);
(4). A<’isyah bt Abu> Bakr umm al-mu’mini>n (2.210 hadis);
(5). Abdulla>h bin ‘Abba>s (1.660 hadis);
(6). Ja>bir bin Abdulla>h (1.540 hadis);
(7). Abu> Sa’i>d al-Khudri> (1.170 hadis);
(8). Abdulla>h bin Mas’u>d (748 hadis);
(9). Abdullah bin ‘Amr bin al-‘A<s{ (700 hadis);
(10). Khalifah ‘Umar bin al-Khat{t{a>b (537 hadis);
(11). Khalifah ‘Ali> bin Abi>T{a>lib (536 hadis);
(12). Abu> Mu>sa> al-Asy’ari (360 hadis);
(13). Al-Barra>’ bin ‘A<z}ib (305 hadis).
Faktor penyebab banyak Sahabat meriwayatkan hadis pd masa pembatasan riwayat ini, a.l.:
(1) Ada yg menyaksikan kehidupan internal rumah tangga Rasulullah , spt ‘A>isyah ra;
(2) Ada yg lebih dahulu bersahabat dgn Rasulullah, spt Abdulla>h bin Mas’u>d;
(3) Ada yg sangat lama menjadi kha>dim (pembantu) Rasulullah,spt Anas bin Ma>lik; dan
(4) Ada yg sangat tekun mengumpul/menghafal riwayat Nabi saw & banyak bertanya semasa Rasulullah saw hidup, spt Abdulla>h bin ‘Abba>s, Abdulla>h bin ‘Amr bin al-‘A<s{, dan Abu> Hurairah.
Para sahabat juga menggunakan cara tulisan dalam meriwayatkan hadis Nabi saw, baik yang mereka tulis lansung dari Rasulullah saw ataupun melalui para sahabat senior.


Periwayatan secara tulisan pada periode ini belum bejalan dgn baik, sebab masa Rasulullah saw pernah terjadi pelarangan untuk menulis hadis. Sabda Nabi saw:
لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ (رواه مسلم).           
”Jangan kalian menulis (sesuatu) dariku, dan barangsiapa yang menulis (sesuatu) dariku selain al-Qur’an, maka hendaklah ia menghapusnya”.
H.3. Periwayatan Hadis pada Masa Tabi’in
Ta>bi’i>n adalah mereka yang bertemu dengan para sahabat Nabi saw dalam keadaan Muslim dan wafat dalam keadaan Muslim.
Masa ini dikenal dgn masa intisya>r al-riwa>yah (penyebaran periwayatan). Periwayatan hadis pada masa Tabi’i>n juga dilakukan secara berhati-hati sekalipun tidak lagi terjadi keraguan akan bercampurnya al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi saw karena al-Qur’an sudah terkodifikasi dalam satu mus{h}af.
Faktor pendukung berrkembangnya periwayatan hadis:
(1) Bertambahnya jumlah ulama yg tertarik menulis dan mengumpulkan fatwa-fatwa para Sahabat dan Kiba>r al-Tabi’i>n (pembesar para Tabi’in);
(2) Keinginan para ulama utk memecahkan berbagai permasalahan yang timbul di sekitar mereka;
(3) Utk mengantisipasi hilangnya hadis Nabi saw krn banyaknya ulama dari kalangan sahabat yg telah wafat;
(4) Utk memelihara autentisitas hadis Nabi saw krn timbulnya gerakan pemalsuan hadis.
Penghimpunan hadis telah digagas oleh Ibn Syiha>b al-Zuhri> di Madinah, lalu dilajutkan ulama lain, spt Ibn Juraij (w. 150 H) di Mekkah, al-‘Awza’i> (w. 156 H) di Syiria, dan Ma>lik bin Anas (w. 174 H) di Madinah.
Puncak penghimpunan hadis secara resmi pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Azi>z (99-101 H).
www.zaynsyah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar